Santa Klaus Bercelana Pendek Ditarik Unta
Posting Oleh : Admin [December 18, 2007 - 6:59 pm]
Tiap akhir musim gugur, penduduk, pemilik toko, biro perjalanan, peternak rusa kutub, dan bahkan politis di Rovaniemi, melihat ke langit. Mereka berharap salju terus turun di musim dingin. Harap-harap cemas. Itulah yang terjadi pada mereka.
Rovaniemi adalah kota di Finlandia yang masuk Kutub Utara. Kota yang dikenal sebagai tempat tinggal Santa Klaus ini merupakan salah satu tujuan wisata terbesar di dunia tiap musim dingin. Santa Klaus dan segala perniknya menjadi ikon yang tak tergantikan.
Apabila ramalan para astronom dan pengamat cuaca di seluruh dunia tentang akibat perubahan cuaca yang begitu mengerikan, bisa jadi industri pariwisata di kota itu akan mengubah strategi promosi. Bukan tidak mungkin Santa Klaus akan mengenakan celana pendek dan menumpang kereta yang ditarik unta.
"Setiap orang yang bekerja di sektor pariwisata khawatir. Tiga atau empat tahun terakhir merupakan saat yang sulit bagi kami," kata Jarmo Kariniemi, pemilik Kantor Santa Klaus di Rovaniemi. Tempat ini tiap tahun menarik 340.000 pengunjung yang sangat ingin bertemu Bapa Natal sesungguhnya.
Kekhawatiran ini karena mereka melihat kondisi salju yang makin menyedihkan. Desember ini, hanya beberapa pekan sebelum Natal, tebal salju di tanah hanya 20 cm. Itu hanya cukup untuk mobil salju dan kereta yang ditarik rusa atau anjing.
Tetapi danau dan sungai yang normalnya sudah membeku pada musim dingin sedikitpun belum berubah menjadi es. Padahal ini menjadi salah satu daya tarik turis yang ingin berselancar. Ini benar-benar berita buruk pariwisata Finlandia. Tiap tahun sektor ini menghasilkan 345 juta dolar AS yang 60 persennya dikeruk pada musim dingin.
Ini yang amat jumlah besar bagi kawasan pedesaan yang sempat terpukul angka pengangguran yang tinggi dan eksodus penduduknya ke kota lebih besar. "Musim dingin di Nordic (sebutan untuk negara Eropa Utara) semakin pendek," kata Heikki Tuomenvirta, klimatolog kepada AFP, Senin (17/12).
Suhu rata-rata di Finlandia akan naik 3-6 derajat Celcius pada musim dingin 2050 dan 4-8 derajat pada 2080. Khusus di Rovaniemi, suhu akan naik dari 15 derajat di bawah nol menjadi 8 derajat di bawah nol.
"Penumpukan salju dan hujan akan meningkat. Lalu akan turun hujan lebih lebat lagi. Hujan itu akan melumerkan es yang normalnya menutupi seluruh kawasan ini dari November hingga April," kata perempuan ini.
Langkah antisipasi sudah diambil sejumlah kota di utara Rovaniemi untuk menarik para turis. "Di Rovaniemi jumlah salju berubah dari tahun ke tahun. Tetapi salju di sini dijamin tetap," kata Carina Winnebaeck, manajer hotel di Enontekioe.
Desa berpenduduk 2.000 jiwa ini jauhnya 3 jam perjalanan dari Rovaniemi. Para pengelola pariwisatanya berhasil membujuk para operator perjalanan Inggris untuk menikmati musim dingin di sana.
Pemanasan global memang membawa keuntungan jangka pendek, misalnya biaya energi lebih rendah, panen lebih baik dan liburan musim panas lebih panjang. Namun efek jangka panjangnya lebih mengerikan pada flora, fauna dan populasi setempat.
Salah satunya adalah nasib peternakan rusa kutub. Peternakan ini menjadi gantungan hidup bagi 7.000 warga etnis Sami seluruh penjuru Arktik. "Tahun lalu kami datang di utara Rusia menyusul migrasi rusa kutub, dan suhunya naik dari minus 28 Celcius menjadi di atas nol," ujar Bruce Forbes, biogeografis di Institut Arktik Rovaniemi.
Lalu, turun salju dan hujan sehingga suhu merosot hingga minus 40 derajat. Forbes menjelaskan suhu yang fluktuatif itu menimbulkan hamparan salju dan es yang sulit ditembus rusa untuk mendapatkan lumut di bawahnya. "Akhirnya para peternak itulah yang harus memecahkan lapisan es itu agar rusa bisa makan," imbuhnya.
Sami Ruismaeki adalah satu dari sekian ribu peternak rusa kutub yang hidupnya semakin terancam. "Ketika tidak ada hujan, tidak ada jamur, sehingga rusa tidak bisa menimbun lemak sebelum musim dingin panjang. Lalu lumut hilang di bawah es keras," kata Ruismaeki.
Agar bisa bertahan hidup di musim dingin, rusa kutub itu harus diberi makan padi-padian dan jerami. Minuman untuk rusa pun harus dibawa dari rumah. "Semuanya sudah tidak menguntungkan lagi,” keluh pria itu
Sumber : Kompas 17 Desember 2007
|