Tegakkan Kedaulatan Rakyat
Posting Oleh : Administrator [August 20, 2008 - 6:10 am]
Ratusan alumni dan aktivis Forum Demokrasi (Fordem) berkumpul di rumah Bondan Gunawan, di Jl Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis (14/8/2008) malam. Mereka, antara lain, Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rahman Toleng, budayawan M. Sobary, rohaniawan Romo Frans Magnis Suseno, dan A.S. Hikam.
Pada temu alumni yang sekaligus memperingati ultah Gus Dur ke-68, yang jatuh pada 4 Agustus, itu Gus Dur didaulat menyampaikan orasi politik berjudul Sekali Lagi Tegakkan Kedaulatan Rakyat. Orasi Gus Dur dibacakan Bondan Gunawan yang pernah menjabat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) pada era pemerintahan Gus Dur.
Dalam orasinya, Gus Dur mengungkapkan keprihatinannya terhadap perkembangan proses demokrasi di negeri ini. Partai politik, menurut Gus Dur, hanya berlomba-lomba meraih dan mempertahankan kekuasaan, bukannya memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar. “Akibatnya, sekarang ini lembaga politik dikecam secara sinis oleh rakyat,” tutur Gus Dur sebagaimana dibacakan Bondan.
Dikatakannya juga, demokrasi dan konstitusi sudah dibajak oleh para elite. “Demokrasi dijalani semata-mata sebagai prosedur untuk berkuasa atas nama rakyat. Dan konstitusi lebih cenderung dipakai untuk mengamankan kepentingan elite,” tandasnya.
Karena itu, Gus Dur meminta, melalui Pemilu 2009 bangsa Indonesia harus mengembalikan paham konstitusional sebagai mekanisme bernegara dengan mempraktikkannya secara benar. “Hanya dengan itu, kita menghormati kedaulatan dan hak-hak rakyat serta demokrasi mampu menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat,” jelasnya.
Gus Dur juga menyerukan pelaksanaan Pemilu 2009 yang damai dan memenuhi asas demokrasi. Elite politik yang hendak merebut kepemimpinan politik, kata Gus Dur, hendaknya benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat. “Harus benar-benar demi kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” ujarnya. “Ini penting, agar bangsa Indonesia tidak lagi kehilangan momentum politik untuk menegakkan kedaulatan rakyat,” katanya lagi.
Menurut Gus Dur, bangsa Indonesia membutuhkan banyak tokoh untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan kultur politik demokratis melalui kerja-kerja sebagai guru bangsa.
Dalam orasinya, budayawan M. Sobary berharap Gus Dur tidak tidur dari persoalan-persoalan menegakkan demokrasi, politik, dan kebangsaan. “Pokoknya demokrasi tak boleh jadi burung liar. Harus ada wadah,” katanya.
Bagi mantan Pemimpin Umum LKBN ANTARA itu, wadah yang jelas untuk demokrasi penting diwujudkan supaya ada kesempatan bagi setiap orang mendapat hak-haknya. Karenanya, Sobary meminta Gus Dur dan para tokoh yang makin sedikit dalam barisan penegakan demokrasi serta kedaulatan rakyat, agar terus membangun wadah bagi demokratisasi.
Dikatakan Sobary, Gus Dur dan tokoh-tokoh pro demokrasi harus terus menggebrak seluruh republik ini karena kini ada “demokrasi seolah-olah” sebagaimana terjadi pada era 1980-an. “Gus Dur pada tahun 1980-an mengatakan soal ada `demokrasi seolah-olah` dan kini di 2000-an, `demokrasi seolah-olah` juga tumbuh lagi,” kata Sobary.
|